Komunikasi Produktif (Sebuah Ringkasan)

15
546
Sebuah Ringkasan Komunikasi Produktif
- Article top ad -

Beberapa hari yang lalu, kami mendapatkan materi Komunikasi Produktif di kelas Bunda Sayang. ini materi pertama dalam rangkaian kurikulum yang telah disiapkan oleh tim Institut Ibu Profesional. Setelah melewati +/- 1 bulan dalam kelas Pra Bunda Sayang, akhirnya saya masuk juga ke kelas Bunda Sayang. Yuhuu!

Flashback sebentar, pada masa lalu, saya sudah berkali-kali mendaftar kelas Bunda Sayang dan baru pada pendaftaran ke-4 akhirnya diterima. Setelah mengarungi 4 wahana di kelas Pra Bunda Sayang, saya kira cukup untuk mengondisikan mindset dan ‘kebugaran’ agar tetap ‘fit’ selama 12 ke depan. 

Apa Itu Komunikasi Produktif?

Materi pertama Bunda Sayang diawali oleh Komunikasi Produktif. Apa sih komunikasi produktif? Yang saya pahami setelah mendengar penjelasan dari kakaWi Putri dan kakaWi Tika, komunikasi produktif adalah proses penyampaian pesan kepada lawan bicara secara efektif dan tidak bias. Sering terjadi ga sih, istri ketika ngambek penginnya ditanya, dibaik-baikin, tapi kalau ditanya suami “kamu maunya gimana?”, jawaban yang keluar malah “terserah”? If you failed to notice, your man can’t read your mind. 

Tantangan Pertama Komunikasi Produktif: Komunikasi kepada Diri Sendiri.

Pada banyak kesempatan, tantangan terbesar yang muncul justru komunikasi produktif pada diri sendiri. Ada mental block yang tercipta seperti: Kaga ngarti dah ni bocah kalo Emaknya yang ngasih tau. Bagaimana caranya menghancurkan mental block serupa itu? Salah satunya dengan menyemangati diri sendiri dengan diksi yang bertenaga. Dear myself, you can do it right. Trust me! 

Komunikasi Produktif dengan Pasangan.

Apa ada pasangan yang tidak memiliki masalah komunikasi? Kalau ada, kalian luar biasa! Sampai saat ini saya masih terus belajar untuk menyampaikan pesan dan keinginan dengan jelas serta berusaha memahami keinginan suami. Untuk mengurangi friksi yang terjadi pada komunikasi dengan pasangan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: 

  1. Gunakan kalimat yang jelas ketika berkomunikasi dengan pasangan. Jika tidak setuju akan suatu hal yang dilakukan suami, katakan dengan jelas. Tidak berbelit dan tidak tersirat. 
  2. Cari suasana yang nyaman untuk ngobrol bareng pasangan. Suami lagi capek pulang kerja lalu diberondong, “Mas, aku mau ngomong serius.” Sebentar Maemunah! Lu buatin dulu teh panas buat suami. Rapiin perlengkapan kerja suami. Siapin air anget bakal suami mandi. Semoga setelah segala ritual tersebut, capek suami ilang dan mood menjadi oke buat diajak ngomong serius. Jika mood suami kelihatannya masih belum oke bagaimana? Tunda, cari celah dimana suami nyaman. 
  3. Gunakan gesture yang sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan. Gesture mengambil peran besar dalam kesuksesan komunikasi produktif sebesar 55%. Pastikan gesture kita mendukung pesan yang ingin disampaikan. 
  4. Untuk memastikan pesan kita diterima dengan baik oleh pasangan, pastikan berbicara tidak disambi dengan kegiatan lain dan tatap matanya. 
  5. Masalah yang ada di antara suami istri jangan dibiarkan berlarut-larut. Selesaikan. Jika masih diamuk emosi, jeda sebentar. Tenangkan diri kemudian cari celah untuk memperbaiki cara penyampaian pesan dan sebagainya. Masalah yang dibiarkan teronggok hanya akan memperburuk kualitas komunikasi dengan pasangan.       

Komunikasi Produktif dengan Anak.

Urusan komunikasi dengan anak-anak tidak seperti kita berkomunikasi dengan orang dewasa. Anak-anak belum tentu paham apa yang disampaikan orang tuanya. Karenanya, perlu kita perhatikan beberapa hal untuk menciptakan komunikasi yang efektif dengan anak: 

  1. Selalu pastikan kita menggunakan kalimat yang jelas kepada anak. Jangan berbelit. Gunakan kata-kata yang sederhana. 
  2. Perlu diperhatikan intonasi yang kita gunakan. Pastikan kita menggunakan intonasi yang tepat untuk membuka pikiran anak. Bisa jadi anak belum paham apa yang kita bicarakan, tapi dengan intonasi yang tepat anak dapat memahami bahwa apa yang kita sampaikan adalah untuk kebaikannya. Jangan bicara ketika marah karena akan membuat bias pesan yang ingin disampaikan. Ambil jeda untuk menenangkan diri. 
  3. Ungkapkan dengan jelas apa yang kita inginkan, alih-alih memberitahu apa yang tidak kita inginkan. Katakanlah, “Bunda pengin Abang mandi karena ini sudah sore.” Jangan gunakan, “Bunda tidak suka Abang nonton terus, ini sudah sore. Mandi!”
  4. Jika anak sering menolak permintaan kita, coba tips ini: berikan pilihan kondisi yang tujuannya sama. “Abang mau mandi sekarang atau ketika filmnya iklan?”. Kedua opsi berujung pada satu tujuan: mandi. Kondisi apapun yang dipilih anak, pesan kita sudah sampai dan sesuai tujuan: anak mandi. 

Selain poin-poin di atas, ada beberapa hal lagi yang bisa digali, diamati, dan dipahami untuk perbaikan komunikasi kita dengan anak. Intinya, jika penerimaan lawan bicara kita tidak sesuai dengan yang kita harapkan, kesalahan bukan pada lawan bicara tetapi pada kita yang belum terampil memilih strategi dalam komunikasi yang produktif. Jangan berhenti, terus belajar!

Tabik!

- Article bottom ad -

15 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here