Tidak Ada Paksaan Dalam Mengaji (Jurnal Hari ke-9)

0
106
Tidak Ada Paksaan Dalam Mengaji (Jurnal Hari ke-9)
- Article top ad -

Temuan dari praktik materi komunikasi produktif kali ini adalah bahwa tidak ada paksaan dalam mengaji. Seperti biasanya, partner komunikasi saya kali ini adalah Abang Ibrahim yang setiap hari bertemu muka. Oh iya, tulisan ini adalah sebuah jurnal harian yang berfungsi untuk mencatat kejadian atau hal-hal penting dalam rangka praktik materi Komunikasi Produktif. Materi komunikasi produktif adalah satu materi yang saya terima dari kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Jika ingin tahu lebih banyak tentang komunikasi produktif, teman-teman bisa membaca ringkasan materinya di sini ya. 

Tidak Ada Paksaan Dalam Mengaji

Bakda magrib adalah satu waktu khusus yang saya luangkan untuk mengajar Ibrahim mengaji. Saya tidak memiliki target yang ambisius. Cukuplah bagi saya jika proses ini kelak menjadi kenangan yang menyenangkan yang dapat ia ingat hingga dewasa. Dengan demikian, proses mengaji seringnya mengikuti mood Ibrahim, seperti yang terjadi hari ini. 

Seperti biasa, Ibrahim mengawali kegiatan mengaji dengan membaca ta’awudz dan basmallah. Saya mencontohkan beberapa huruf yang harus dibaca dengan benar oleh Ibrahim. Tidak seperti biasanya, Ibrahim tidak fokus mengaji kali ini. Sebab utamanya adalah keberadaan Adek Dawud bersama kami. Seringnya, ketika kegiatan mengaji kami berlangsung, Dawud diasuh oleh suami. Jika suami belum pulang dari kantor, saya mengajak Ibrahim menggeser waktu mengaji menjadi setelah Dawud tidur. Namun tidak kali ini. 

Ibrahim menjadi tergoda bermain dengan Dawud. Saya sampai harus mengulang beberapa kali satu kata yang mesti diucapkan Ibrahim dengan benar. Sesekali Dawud yang sedang tidak enak badan merengek sehingga saya harus berhenti sejenak untuk menenangkan Dawud. Suami saya kala itu sedang mandi sehingga tidak bisa banyak membantu. Belum lagi rampung satu baris dibaca, Ibrahim sudah mengungkapkan pendapatnya. 

“Bunda, nanti aja deh dilanjutin lagi. Nanti Abang oleng.” Dramatis bener dia bilang oleng.  

“Oke deh. Dilanjut lagi nanti, ya?”, saya memastikan, apakah kami sepakat untuk melanjutkan mengaji nanti atau disudahi saja sampai di sini. 

“Iya deh nanti lanjutin lagi.” Saya harus mengingatkan ia lagi nanti, tentang mengaji yang tertunda. Mungkin nanti ketika Dawud sudah tidur.

Waktu berlalu dan saya terlupa untuk mengajak Ibrahim melanjutkan mengaji yang sempat tertunda. Ibrahim keburu tertidur tanpa menyelesaikan bacaan mengajinya. 

Poin Komunikasi Produktif.

Berdasarkan kondisi di atas, saya mengambil pelajaran akan hal-hal di bawah ini:

  1. Kenali kondisi lawan bicara. Ibrahim mungkin sebenarnya ingin sungguh-sungguh mengaji, jika saja tidak ada Dawud yang beberapa kali memecah konsentrasi kami. Semestinya, saya bisa lebih jeli lagi memperkirakan kondisi yang akan terjadi. Ke depannya, jika terjadi hal serupa, sebaiknya saya akan menunggu suami hingga selesai mandi dan sholat. Kemudian saya dan Ibrahim bisa mengaji dengan tenang. Jika suami tidak di rumah, seperti strategi yang sudah-sudah, saya akan menunggu Dawud tidur kemudian mengajak Ibrahim mengaji. Dengan demikian, kondisi lebih memungkinkan bagi Ibrahim untuk menyelesaikan kegiatan mengaji dengan baik. 
  2. Jangan memaksakan kehendak kepada anak. Untuk banyak hal, saya berusaha untuk tidak memaksakan kehendak kepada anak. Apalagi untuk urusan kegiatan yang diperlukan iman sebagai pendorong. Dalam proses mengaji, saya ingin menciptakan suasana menyenangkan bagi Ibrahim sehingga dia enjoy melakukannya. Lebih dari itu, harapan saya, pengalaman mengaji ini dapat membekas dalam memori Ibrahim sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk diulang dan terus dipertahankan kebiasaannya. Hingga akhirnya, iman yang menjadi latar belakang Ibrahim cinta mengaji. Aamiin. 
  3. Mengingatkan tentang janji yang sudah diucapkan. Tentang menepati janji, saya pernah menuliskan pengalaman mendampingi Ibrahim dalam prosesnya menepati janji (baca selengkapnya di sini). Seperti yang sudah pernah saya tuliskan, anak perlu bantuan orangtua dalam menepati janjinya. Dalam case mengaji ini, saya lupa mengingatkan Ibrahim untuk melanjutkan mengaji saat Dawud sudah terlelap. Walaupun demikian, saya mengupayakan tidak ada paksaan dalam mengaji. Jika Ibrahim tetap belum mau mengaji, kegiatan ditunda dan dicari lagi strategi komunikasi yang lebih baik agar Ibrahim gembira mengaji.

Bintang Penghargaan.

Saya memberi nilai 3 bintang dari 5 bintang berdasarkan kejadian di atas karena lebih banyak porsi kelalaian saya dalam upaya menghadirkan proses komunikasi yang produktif. Harapannya, saya mampu lebih cakap lagi dalam menciptakan komunikasi yang produktif baik dengan anak, maupun dengan pasangan. 

Semoga kejadian ini bermanfaat bagi yang membaca. Jika ada tanggapan, boleh disampaikan pada kolom komentar ya. Terima kasih. 

Tabik!

- Article bottom ad -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here