Memendam Rasa (Jurnal Hari ke-12)

1
220
Memendam Rasa (Jurnal Hari ke-12)
- Article top ad -

Seharian kemarin saya dibuat pusing oleh kelakuan diri sendiri akibat memendam rasa. Tadi pagi saya coba ingat-ingat lagi tentang hari kemarin. Kok rasanya saya lupa akan banyak hal tentang hari kemarin. Betul ini, bad mood karena memendam rasa membuat saya lupa (sebagian) ingatan. Nanti akan saya ceritakan tentang rasa yang dipendam ini. 

Catatan ini dibuat sebagai jurnal pribadi dan  pengerjaan tugas komunikasi produktif kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Tidak terasa saya sudah menuliskan 11 jurnal dalam 11 hari berturut-turut. Untuk melengkapi pengerjaan tugas di materi pertama ini, saya harus konsisten menulis 15 jurnal selama 15 hari tentang implementasi materi komunikasi produktif. Tentang komunikasi produktif, saya sudah buat ringkasannya di sini jika teman-teman tertarik untuk membaca lebih lanjut. 

Memendam Rasa

Seperti biasanya, di weekend pagi saya memberitahu suami tentang apa-apa saja yang akan saya lakukan pada hari itu. Fungsi pemberitahuan ini agar suami mampu mengambil peran dalam menjaga anak-anak. Setelah memastikan bayi tidur, saya mulai memasak pagi hari. Abang yang jemu bermain sendirian meminta nonton channel YouTube. Sebenarnya, saya dan suami cukup membatasi Abang Ibrahim menonton YouTube karena emosinya cenderung tidak stabil setelah sering menonton YouTube. Tapi saya tidak punya pilihan. Saat itu saya lihat suami saya sedang serius menatap laptop. Lembur lagi nih kayaknya. Hari sebelumnya suami lembur kerja di rumah hingga larut malam. Saya kira, saat itu lembur masih bersambung. Akhirnya, Ibrahim saya biarkan menonton YouTube selagi saya memasak. 

Di tengah-tengah memasak, bayi bangun. Selain tidur malam, bayi tidur hanya sebentar sekitar 30 menit hingga 1 jam. Saya berhenti memasak sebentar untuk mengurusi bayi. Saya hampiri suami sejenak, saat itu saya tahu bahwasannya suami tidak sedang bekerja. Dia sedang melakukan hobinya ngutak-atik web. Flashback sebentar, tempo dulu saya sering kali berujar kepada suami, “Kalo bisa, kamu sisihkan waktu buat ngerjain yang kamu suka. Merawat passion. Jadi kehidupan ga monoton sama kerjaan kantor aja.” Dan sebulan belakangan dia merealisasikan saran saya. 

Hanya saja, saya kira akan lebih nyaman bagi saya kalau me-time suami berlangsung di malam hari ketika anak-anak sudah tidur. Saya sangat butuh bantuannya menjaga anak-anak di waktu pagi hingga sore. Ketidaknyamanan ini saya simpan saja di dalam hati. Saya pikir, suami juga dalam rangka mengikuti saran saya. Tapi, lama kelamaan saya makin kerepotan memasak sembari mengurusi bayi dan Abang. Teriakan dan tangisan bukan backsound yang saya inginkan untuk menemani masak-memasak. Anak-anak semakin rewel. Saya lihat suami begitu tenteram menatap laptop. Ketidaknyamanan saya berubah menjadi jengkel. 

Karena tidak diungkapkan, jengkel berbuah pusing dan mudah mengantuk. Jadilah siang itu saya habiskan dengan lebih banyak tidur. Ketika bangun, mood belum juga pulih. Memendam rasa seperti ini memang tidak nyaman, tapi saya enggan berterus terang kepada suami. Entah karena hal seperti ini sering terjadi atau karena tidak mau menghadapi efek dari pengungkapan perasaan, adu argumen misalnya.  Sampai dengan malam hari dan berangkat tidur, saya masih memendam rasa jengkel kepada suami. Hal ini menjadikan tidur malam saya tidak berkualitas. 

Poin Komunikasi Produktif.

Berdasarkan kejadian di atas, kendala utama saya adalah tidak mengungkapkan apa yang saya rasa. Ada beberapa hal mestinya bisa saya lakukan untuk memaksa diri bicara atas apa yang tidak saya sukai dari sikap pasangan. Berikut poin-poin yang bisa saya ambil pelajarannya: 

  1. Jangan dipendam, katakan! Jika saya masih marah, saya bisa ambil jeda untuk fokus menenangkan diri, bukan malah mengenyampingkan masalah. Ketika sudah tenang, saya bisa bicara dengan kontak mata dan gesture yang sesuai sehingga pasangan tidak merasa dihakimi. Yang saya lakukan kemarin adalah justru membuat permasalahan menjadi berlarut-larut untuk diri saya sendiri, padahal suami merasa semuanya baik-baik aja. Tidak ada komplain yang datang padanya. Sekali lagi, katakan!
  2. Jangan pergi tidur malam dengan membawa masalah. Untuk saya, bad mood karena masalah yang dipendam bisa berlangsung lama dan bikin uring-uringan berhari-hari. Sebisa mungkin, sebelum tidur malam, masalah dengan pasangan harus sudah selesai. Masalah yang dibawa tidur akan menurunkan kualitas tidur sehingga ketika bangun pagi kondisi badan tidak sesegar biasanya. 
  3. Ciptakan kondisi nyaman untuk mencurahkan perasaan pada pasangan. Saya mungkin bisa membuat surprise kecil, menghidangkan makanan kesukaannya misalnya, untuk menciptakan good mood pada pasangan. Harapannya, komplain yang disampaikan akan diterima dengan baik oleh pasangan.

Bintang Penghargaan.

Saya harus berbesar hati memberi nilai 2 bintang dari 5 bintang. Semua materi komunikasi produktif seakan lenyap tertimbun ego. Semoga ke depannya, saya bisa melihat diri dengan jujur dan bijak dalam bertindak. 

Semoga kejadian ini bermanfaat bagi yang membaca. Jika ada tanggapan, boleh disampaikan pada kolom komentar ya. Terima kasih. 

Tabik!

Bekasi, 14 September 2020

- Article bottom ad -

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here