Instruksi kepada Anak (Jurnal Hari ke-4)

1
99
Instruksi kepada Anak (Jurnal Hari ke-4)
- Article top ad -

Instruksi kepada Anak saya lakukan hari ini. Hal ini saya lakukan dalam rangka implementasi komunikasi produktif yang merupakan tantangan  di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Saya sudah buat ringkasan tentang Komunikasi Produktif yang dapat dilihat di sini

Instruksi kepada Anak Mengupas Kulit Telur Rebus.

Pagi ini saya agak terburu-buru dalam memasak. Pasalnya, saya hanya punya waktu sekitar setengah jam untuk memasak sebelum mengikuti webinar Podcast. Kelas Podcast bisa berlangsung hingga siang, sehingga kegiatan masak harus selesai sebelum kelas dimulai. 

Pagi-pagi sekali, saya sudah merebus telur untuk diolah menjadi telur tahu bumbu rujak. Proses masih panjang: menyiapkan bumbu, menghaluskan bumbu, dan sebagainya. Saya terpikir untuk melibatkan Ibrahim dalam proses memasak ini, tapi terbesit keraguan. Jangan-jangan proses memasak menjadi lebih lama. Tapi kan saya tidak akan tahu kalau tidak dicoba. Okelah, saya coba ajak Ibrahim.

Di awal, saya cek ombak dulu. Saya minta tolong Ibrahim untuk mengupas kulit telur rebus. Jika ia menolak, saya tidak akan bujuk lebih lanjut. Ternyata ia setuju untuk membantu. Saya berikan instruksi di awal sembari mencontohkan bagaimana cara mengupas kulit telur rebus: 

  1. Saya jelaskan dengan sederhana, telur mempunyai 2 ujung. Ada bagian telur yang lebih tumpul dibanding yang lainnya. Pada bagian yang lebih tumpul, telur dibenturkan ke lantai (ini biar seru aja sih, kan anak-anak suka pukul-pukul barang ke lantai). 
  2. Setelah retak, kulit telur dipreteli hati-hati hingga tidak tersisa. 

Total telur rebus ada 4 buah. Saya telah menguliti satu buah, sehingga sisa 3 telur yang Ibrahim harus kupas kulitnya. Saya tidak menaruh harapan tinggi. Satu telur yang berhasil ia kupas sudah termasuk sebuah pencapaian. 

Instruksi kepada Anak (Jurnal Hari ke-4)-kupas telor
Abang Ibrahim Kupas Telur

Sembari memasak, saya pantau Ibrahim mengupas kulit telur. Satu telur sudah terkupas, saya beri pujian. Ia lanjut mengupas yang lain setelah sebelumnya bertanya, “Yang ini yang dipukul, Bunda?”, Ia memastikan bagian tumpul sisi telur yang akan dibenturkan ke lantai. Ini menarik! Ibrahim bisa memperkirakan dengan tepat bagian telur mana yang lebih tumpul dibanding yang lainnya.

Telur kedua sudah rampung dikupas kulitnya, saya beri pujian. Ia melanjutkan mengupas telur ketiga. Tidak lama kemudian, telur ketiga pun sukses dikuliti. Waw! Bravo Ibrahim! Saya sampaikan pujian dengan tulus dan betapa saya bangga ia telah berhasil menyelesaikan keseluruhan telur untuk dikuliti tanpa gompal sedikit pun.

Tantangan dalam Memberikan Instruksi kepada Anak.

Pada case di atas, tantangan yang terjadi justru datang dari diri saya: tidak percaya pada anak. Apa iya dia bisa melakukannya? Bagaimana kalau nanti ada gompal di telurnya? Bagaimana kalau ia bosan di tengah jalan lalu kabur meninggalkan telur yang setengah terkupas? 

Pikiran negatif ini kalau dilanjutkan tidak ada habisnya dan semakin menjerat saya untuk tidak memberi kesempatan pada Ibrahim mencoba hal-hal baru. Padahal mungkin, dengan mencoba hal-hal baru ia akan menemukan passion-nya. Saya masih sering lupa kalau saya pun harus belajar, salah satunya belajar percaya pada kemampuan anak. 

Poin Komunikasi Produktif.

Berdasarkan kejadian di atas, saya meng-highlight beberapa hal berikut:

  1. Percaya kepada anak. Jika belum dicoba, bagaimana kita bisa tahu kemampuan anak? Jika pun gagal, jangan kecewa. Eksplorasi lagi, coba lagi. Siapkan ruang untuk kemungkinan gagal. Jangan lupa, dia masih anak-anak. Proses belajar mestinya menjadi hal yang menggembirakan baginya. 
  2. Beri instruksi dengan tenang. Saat itu jelas saya sedang diburu waktu dan saya harus menjelaskan cara mengupas kulit telur kepada anak berusia 3 tahun dengan sejelas mungkin. Hal pertama yang harus dilakukan adalah tenang. Buru-buru berpotensi membuat kalimat-kalimat saya menjadi susah dimengerti. Buru-buru juga memberikan aura negatif yang dapat membuat Ibrahim menjadi tidak nyaman. 
  3. Beri instruksi dengan jelas. Gunakan kalimat sederhana. Pastikan kata-kata yang dipakai adalah kata-kata yang familiar bagi anak. 
  4. Jelaskan dengan memberi contoh. Saya berikan instruksi sembari mencontohkan satu telur yang saya kupas hingga selesai. Lakukan dengan perlahan agar anak menangkan dengan jelas proses demi prosesnya.
  5. Beri pesan yang afirmatif. Di akhir proses mencontohkan, saya gunakan kalimat afirmasi kepada ibrahim: Nah, mudah kan? Harapannya, Ibrahim menjadi lebih percaya diri untuk mencoba melakukannya sendiri. 
  6. Beri pujian atas keberhasilan. Setelah berhasil melakukan apa-apa yang sudah diinstruksikan, anak berhak mendapatkan pujian yang tulus. Pujian akan meningkatkan kepercayaan diri anak. Pujian juga menjadi cara agar anak tahu bahwa ia berharga bagi orangtuanya. 

Bintang Penghargaan

Atas proses yang sudah saya dan Ibrahim lalu, saya berikan bintang 5 dari 5 bintang untuk proses komunikasi produktif ini. Ini sebagai bentuk apresiasi kepada diri yang telah berhasil menaklukan keraguan terhadap anak. 

Sampai sini dulu sesi berbagi ceritanya. Semoga jurnal ini memberi manfaat bagi Bapak/Ibu yang membacanya. 

Tabik!

- Article bottom ad -

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here