Menepati Janji (Jurnal Hari ke-7)

3
80
Menepati Janji (Jurnal Hari ke-7)
- Article top ad -

Menepati janji, bagi anak-anak, bisa jadi bukan sebuah proses yang menyenangkan. Saya pun tidak terlalu memaksakan anak harus menepati janji. Hanya saja, kebiasaan baik memang perlu diajarkan. Tidak hanya diajarkan, tetapi juga diberikan teladannya. 

Masih dalam misi praktik materi Komunikasi Produktif di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, saya mencoba mengimplementasi materi pada latihan menepati janji bagi Abang Ibrahim. Bagi teman-teman yang tertarik ingin mengetahui apa itu Komunikasi Produktif, saya sudah buat ringkasannya di sini, boleh dibaca yaa~ 

Belajar Menepati Janji.

Abang Ibrahim termasuk picky eater tingkat tinggi. Sehari-hari makannya kue-kue atau biskuit atau mie. Hal ini sudah berlangsung sejak ia usia 1 tahun. Sudah segala cara dilakukan, segala makanan diperkenalkan, dia tetap teguh pilih-pilih makanan. 

Malam itu dia bilang mau makan mie tapi saya tolak. Pasalnya, terakhir kali dia makan mie tidak dihabiskan. Makan beberapa sendok lalu ditinggal tidur. Jadi, saya sedang menimbang-nimbang, apakah dia minta makan mie karena betul lapar atau karena mengalihkan kantuk. 

Dia masih merayu minta makan mie. Saya mengambil janjinya untuk menghabiskan mie yang ada. Ia setuju. Saya ragu. Porsi makan anak ini sebenarnya tidak terlalu banyak, jadi kemungkinan tidak habis 100%. Walaupun demikian, saya mencoba percaya dia akan menepati janji. Jadi, malam itu saya masak mie untuk makan malam Abang. 

Mie sudah dihidangkan sesuai dengan seleranya: dipotong-potong kecil. Dia mulai makan beberapa suap. Saya temani Abang makan sembari saya mengecek handphone. Beberapa suap berlalu. Beberapa helai mie tampak berjatuhan dan menempel di baju Abang. Dia merasa jijik dan komplain. Acara makan berhenti sejenak karena saya perlu membersihkan mie-mie yang menempel di baju Abang. 

Setelah bajunya bersih dari mie, Abang tidak lanjut makan. Ia ambil air dan minum beberapa teguk. Selesai minum, ia jalan-jalan menghampiri kaca jendela, “Bunda lihat, ada cicak!” Romannya ini makanan ga bakal dihabisin dah. Tidak mau berlama-lama dalam dugaan, saya tanya langsung kepada Abang, “Kenapa makannya tidak dihabiskan?” Dia jawab, “Abang bosan.” Apa katanya? Bosan?

Ingin rasanya saya langsung makan saja seluruh mie yang tersisa lalu mengajak Abang tidur ke kamar. Selesai urusan! Tapi yang keluar dari mulut saya bertolak belakang, “Bosan kenapa? Mau Bunda suapin?” Dia jawab dengan semangat, “Mau!” 

Saya suapi Abang sembari mengajak ngobrol. Tidak terasa, Abang memakan habis semua mie dipiring! Wah, ini suatu pencapaian! Mungkin dia tidak menyadari bahwa ia baru saja menepati janji yang sudah diikrarkan beberapa menit sebelumnya. Saya beri pujian kepada Abang. Saya katakan saya bangga Abang menghabiskan mie seluruhnya.

Poin Komunikasi Produktif.

Dari kejadian di atas, saya menemukan beberapa hal penting yang menjadi catatan: 

  1. Percaya kepada anak. Poin ini pernah menjadi catatan saya pada jurnal Memberikan Instruksi kepada Anak, tetap saja terjadi lagi. Saya perlu legowo belajar mempercayai anak. Percaya akan kemampuannya, percaya kalau fitrahnya anak selalu baik. 
  2. Bantu anak menepati janji. Pada case Ibrahim, ada celah dimana ia bisa saja meninggalkan sisa mie yang ada lalu berangkat tidur. Karena saya tawarkan bantuan (menyuapi Ibrahim), maka ia mampu menepati janjinya untuk menghabiskan mie. 
  3. Buat anak nyaman dalam melaksanakan janji. Mungkin, pada kondisi tertentu Ibrahim tidak nyaman ketika ia makan. Saya memang berada di dekatnya saat itu tetapi terlalu sibuk bercengkrama dengan handphone. Bagi Ibrahim, memakan mie menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan. Tapi keadaan bisa jadi berbeda saat Ibrahim makan mie, saya menemaninya sembari mengajak ngobrol. Proses menepati janji menjadi lebih menyenangkan baginya. 
  4. Teladan orangtua. Pernah ga sih kita menjanjikan anak sesuatu demi untuk mengalihkan perhatian atau sekadar agar anak menuruti perintah kita? “Tidur siang ya. Nanti dibeliin es krim kalo sudah bangun tidur.” Sebaiknya, janji es krim ini betul-betul ditepati, bukan sebagai iming-iming belaka. Jika tidak, anak sang peniru, belajar mengingkari janji dari orangtuanya sendiri. 
  5. Beri pujian atas janji yang sudah ditepai. Hal ini penting untuk meningkatkan kepercayaan diri anak dan memberikan rasa gembira untuk mengulanginya lagi. 

Bintang Penghargaan.

Untuk proses yang telah terjadi di atas, saya memberi nilai 4 bintang dari 5 bintang. Saya mengapresiasi bantuan saya menyuapi Ibrahim sehingga Ibrahim mampu menepati janjinya dengan baik. 

Semoga kejadian ini bermanfaat bagi yang membaca. Mohon doakan saya agar menjadi Ibu yang lebih baik lagi untuk anak-anak. 

Tabik!

- Article bottom ad -

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here