Mati Listrik Malam Hari (Jurnal Hari ke-14)

0
82
Masak di kala Mati Listrik (Jurnal hari ke-14)
- Article top ad -

Kemarin, rumah saya dan beberapa rumah tetangga mati listrik. Tidak seperti biasanya, mati listrik kali ini relatif lama hingga lebih dari 4 jam. Sejak sore hingga malam. Memasuki malam agak krusial. Saya harus waspada, level kerewelan bocah bisa naik drastis. Ditambah lagi, malam itu kami kehabisan nasi (ga bisa masak juga kan karena mati listrik) dan belum masak lauk serta sayur untuk makan malam. Yang lebih mengkhawatirkan, saya cenderung mudah marah ketika lapar. Alamak, siaga 1!

Sebelum melanjutkan cerita, saya mau menginformasikan bahwa tulisan ini adalah sebuah jurnal atau catatan harian atas implementasi materi yang telah saya dapat di kelas Bunda Sayang  Institut Ibu Profesional. Ini adalah jurnal ke-14 dari total 15 jurnal yang harus dibuat. Sisa satu lagi berarti, yeay! 

Saya masih bercerita tentang pengalaman praktik materi komunikasi produktif dengan pasangan, dengan anak, atau dengan yang lainnya. Tentang komunikasi produktif, saya sudah buat ringkasannya di sini jika teman-teman tertarik untuk membaca lebih lanjut. 

Masak di kala Mati Listrik

Mencermati bahwa kondisi bisa memburuk seiring dengan meningkatnya rasa lapar, saya mengusulkan kepada suami untuk membeli makan di luar. Tidak berapa lama setelah pengajuan usul, di luar turun hujan. Perfect! What should we do now? Saya berharap ada Abang Bakso lewat di depan rumah, tapi harapan tidak terwujud. Suami mengusulkan untuk masak mie godog. Di pikiran, saya membayangkan masak dalam kondisi kelam ditemani secercah lampu dari handphone. Mood saya langsung jelek. 

“Tolong Ayah, lagi gelap-gelapan gini jangan diminta masak.” Kalimat meluncur begitu saja tanpa dipikir lagi, apakah sudah sesuai dengan kaidah-kaidah komunikasi produktif. Saya sebenarnya berharap suami dengan gagahnya mengambil motor untuk kemudian pergi ke luar membelah hujan demi membeli mie ayam. 

“Aku yang masak deh. Ajarin aja caranya ya.” Duh, Pe eR bener dah malem-malem gelap ngajarin laki masak! Emang dia kaga mau beli mie ayam aja apah?! Saya masih terdiam belum menanggapi. Di luar hujan semakin deras. Saya menjadi tidak tega meminta suami hujan-hujanan di luar sana demi mie ayam. 

“Oke deh.” Saya siapkan bumbu, sayur, dan bahan masakan lain yang diperlukan. Saya lihat suami begitu bersemangat masak di kala mati listrik begini. Sesekali saya pantau anak-anak yang girang lari-larian. 

Saya sedang memastikan kelengkapan bahan masakan ketika menemukan mie telor yang akan digunakan tidak cukup untuk porsi makan kami. Di samping bungkus mie telor, saya lihat ada bihun jagung. Jadilah bihun jagung ikut meluncur ke wajan menemani mie telor yang sudah dimasak terlebih dahulu. Mie bihun nyemek sudah siap disantap. Saya dan suami sangat menikmati momen itu sebagai buah dari kerjasama kami yang harus masak di kala mati listrik. 

“Enak ya! Kita bisa makan enak tanpa harus beli ke luar.” Saya tersenyum tersipu. 

Poin Komunikasi Produktif.

Dari sebongkah cerita di atas, saya mengambil beberapa poin pelajaran terkait komunikasi produktif dengan pasangan sebagai berikut: 

  1. Ungkapkan perasaan dengan cara yang baik. Penolakan memasak kala itu disampaikan dengan cara yang kurang apik. Jika saja saya bisa berhenti sebentar untuk berpikir, saya bisa edit dengan kalimat yang lebih anggun: Wah..enak nih mie godog! Tapi kalo gelap-gelapan begini aku kurang suka masak. Sudah cukup anggun?
  2. Ungkapkan keinginan pada kondisi yang tepat. Beberapa kali skenario suami hujan-hujanan membeli mie ayam berkelebat di kepala saya saat itu. Untungnya, tidak saya sampaikan. Kalau tidak, pastilah suami sedih mendengarnya. Kejam kali istri hamba ya Rabb. Demi makanan, saya harus hujan-hujanan. 
  3. Pahami keterbatasan pasangan. Dalam hal ini, keterbatasan ada pada saya: tidak mau masak di kala mati listrik. Suami dengan gagahnya menawarkan diri untuk memasak. Keterbatasan pengetahuannya akan memasak diungkapkan dengan tujuan agar saya dapat membantu. Saya merasa tidak terbebani saat itu. Saya luluh melihat  effort yang dilakukan suami. Toh kalau dipikir-pikir, akhirnya saya masak juga bareng suami. 

Bintang Penghargaan.

Untuk menilai diri saya, bolehlah dihadiahi 4 bintang dari 5 bintang. Atas hal-hal negatif yang tidak diungkapkan, saya apresiasi pilihan saya saat itu. Atas kemauan bekerjasama dengan suami, saya juga apresiasi. Semoga kedepannya, saya mampu terbiasa melihat segala sesuatu dengan positif, berujar dengan kalimat yang apik, dan mampu membaca kondisi sebelum bersikap. 

Semoga kejadian ini bermanfaat bagi yang membaca. Jika ada tanggapan, boleh disampaikan pada kolom komentar ya. Terima kasih. 

Tabik!

Bekasi, 16 September 2020

- Article bottom ad -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here