Donat Meminta Pengorbanan (Jurnal Hari ke-8)

0
49
Donat meminta Pengorbanan (Jurnal Hari ke-8)
- Article top ad -

Donat masih menjadi isu yang belum terselesaikan di rumah kami. Kali ini donat meminta pengorbanan. Terkait donat, sudah pernah saya singgung pada tulisan saya sebelumnya yang berjudul Menjaga Adek. Latar belakang tulisan tersebut adalah permintaan suami yang meminta dibuatkan donat. Akhirnya? Bisa dibaca lengkap tulisannya ya~

Tulisan ini sebagai jurnal harian dalam rangka praktek materi komunikasi produktif kelas Bunda Sayang Ibu Profesional Bekasi. Apa itu komunikasi produktif? Saya sudah buat ringkasannya di sini ya. Boleh dibaca kaka~

Donat Meminta Pengorbanan.

Sehabis subuh, suami saya meminta dibuatkan donat, lagi. Saya terdiam. Terbayang tumpukan pakaian kotor yang menuntut dicuci hari ini. Belum lagi gunungan piring kotor yang menganggur sejak semalam. Terlintas juga bayangan bahan-bahan masakan yang belum disiangi, apalagi dimasak, boro-boro. Tiba-tiba emosi saya memuncak, “Donat lagi? Belum bisa!” Pengin hati merepet ngucap segala macam keluhan, tapi kan itu masih pagi. Masa pagi-pagi udah habis tenaga buat marah-marah. Heu. 

“Apa aku cuti aja ya?”. Eh? Apa sedang tanggal merah? Sering kali suami mancing, “besok aku di rumah aja deh.” Istrinya girang, ternyata memang tanggal merah, libur nasional. Zzzz. Kali ini saya kira juga begitu, joke klasik doi. Buru-buru cek tanggalan, ternyata tanggal hitam. Kembali saya samperin suami, “Bukan tanggal merah hari ini.”

“Kan aku bilang cuti, bukan libur.” Beneran ini?! Mamak girang! Yeay! Mamak langsung setuju bikin donat dengan catatan suami bantu menjaga anak-anak. Suami setuju. Eits, ada yang perlu diinformasikan terlebih dahulu, “Aku belum bisa langsung bikin donat ya. Aku mau kerjain A, lalu B, lalu C dulu. Kalau semua sudah selesai, baru aku bikin donat.” Suami setuju dan anak-anak langsung dipindahtangankan. Saya kerjakan yang harus dikerjakan sebelum membuat donat. Selesai pekerjaan rumah, saya mulai membuat donat. Sesekali saya lirik anak-anak yang sedang diasuh suami. Mereka sudah mandi dan tampak gembira main bersama sang Ayah. Saya tenang mengadon donat. Sekitar pukul 10.30 donat sudah selesai dibuat dan disajikan dengan macam-macam isian (jenis donat isi, tanpa lubang). Suami dan anak tampak gembira sekali menyambut kehadiran donat. Kali ini, pembuatan donat meminta pengorbanan: suami cuti kerja.

Poin Komunikasi Produktif.

Dari kasus donat hari ini saya mengambil beberapa catatan atas proses komunikasi produktif yang terjadi:

  1. Perhatikan kondisi pasangan ketika akan meminta tolong. Pada tulisan sebelumnya (boleh lihat di sini ya), suami kurang memerhatikan kondisi saya apakah mampu membuat donat hari itu dengan kendala yang ada. Pada hari ini, kendalanya tidak jauh berbeda, tetapi suami sudah memahami betul dan bersedia berkorban demi sang istri membuatkannya donat. Semoga donat menjadi pembayar cuti yang setimpal. 
  2. Katakan dengan jelas bantuan apa yang dibutuhkan. Saya katakan pada suami, saya perlu bantuan suami untuk menjaga anak-anak ketika saya membuat donat. Seperti pada case Ibrahim menjaga Adek (baca juga ceritanya di sini), saya sampaikan juga dengan jelas apa itu definisi ‘menjaga anak-anak’ yang saya harapkan. 
  3. Apresiasi bantuan yang sudah diberikan. Saya merasa sangat terbantu dengan kesediaan suami menemani anak-anak bermain (dan memandikan anak-anak). Atas bantuan yang sudah diberikan, saya ucapkan dengan jujur betapa saya berterima kasih. 

Bintang Penghargaan.

Saya memberi nilai 5 bintang dari 5 bintang. Saya melihat ini sebagai proses belajar kami sebagai pasangan. Jika sebelumnya pembuatan donat tidak tercapai karena kendala yang ada tidak diselesaikan, kali ini kendala bisa ditangani dengan baik oleh kami sebagai sebuah tim. Semua happy

Semoga kejadian ini bermanfaat bagi yang membaca. Jika ada tanggapan, boleh disampaikan pada kolom komentar ya. Terima kasih. 

Tabik!

- Article bottom ad -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here