Review Podcast Coming Home with Leila Chudori

1
58
- Article top ad -

Belakangan ini saya sedang gandrung dengan sebuah akun podcast yang membahas tentang buku: Coming Home with Leila Chudori. Diresmikan pada tanggal 21 Agustus 2019, Leila Chudori meluncurkan sebuah podcast untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Bekerja sama dengan Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, Gramedia Pustaka Utama dan Gentle Media Network serta didukung oleh Femina, podcast Coming Home with Leila Chudori tayang setiap Rabu.

Secara garis besar, ada 3 segmen yang disajikan oleh Leila Chudori yaitu: 

  1. In Contemplation with ~ membahas tentang buku yang dipilih oleh narasumber. 
  2. In Conversation with ~ membahas tentang proses kreatif pembuatan sebuah buku oleh narasumber. 
  3. In Consideration with – menyajikan debat dengan buku yang dibawa oleh narasumber. 

Episode yang saya dengar pertama kali justru di luar tema di atas, sebuah episode yang istimewa: Discussion with F. Rahardi, Nurdin Kalim dan Richard Oh. Sebuah diskusi tentang Penghargaan Sastra Indonesia yang diselenggarakan masing-masing oleh Badan Bahasa (Penghargaan Sastra Badan Bahasa), Tempo (Buku Sastra Pilihan Tempo), dan Kusala Sastra Khatulistiwa. Diskusi ini buat saya menarik sekali karena membahas penjurian dan penilaian sastra yang dinilai terbaik oleh masing-masing pihak. Selain itu, mendengarkan episode ini juga memperluas pandangan saya tentang perkembangan sastra Indonesia saat ini.

Episode lain yang berkesan adalah ketika menghadirkan Ahmad Fuadi sebagai narasumber dengan judul In Conversation with Ahmad Fuadi. Pada episode tersebut diceritakan proses kreatif Ahmad Fuadi dalam menulis buku-bukunya. Saya jadi tahu bahwasanya Negeri 5 Menara disusun berdasarkan pengalaman pribadi Ahmad Fuadi yang didukung dengan dokumentasi pengalaman hidup yang rapi lewat buku harian dan surat-surat Ahmad Fuadi kepada Ibunya. Saya menikmati mendengar cerita beliau tentang kehidupan dan mimpi masa kecil, kisah di pesantren dan mimpi-mimpi yang berbuah buku. Saya juga menikmati cara bertutur beliau yang rapi dalam bercerita dan menjawab pertanyaan.

Episode lainnya yang mengesankan adalah ketika menghadirkan Seno Gumira Ajidarma (SGA) dalam In Conversation with Seno Gumira Ajidarma. Beliau ini termasuk penulis kegemaran saya dan saya menduga pembicaraan ini akan menarik sekali. Dugaan saya terbukti 70%. Haha! Karena pada beberapa pertanyaan, beliau menjawab dengan jawaban pendek-pendek dan terasa terlalu sederhana. Selebihnya menarik! Saya jadi tahu, berita yang tidak dapat tayang di media masa dapat berubah bentuk menjadi sebuah karya sastra yang kuat bersuara.

Pada episode lain, Leila menghadirkan Dee Lestari dalam tajuk In Conversation with Dee Lestari. Episode tersebut membahas proses kreatif Dee Lestari dalam menulis buku Aroma Karsa: Di Balik Tirai. Dee ini memang menarik sekali! Beliau merangkum riset-riset beliau untuk keperluan penulisan Aroma Karsa dalam satu buku sendiri. Dalam proses kreatifnya menulis Aroma Karsa, Dee juga mengikuti sebuah kursus pembuatan parfum di Singapur. Saya menjadi tahu, Dee ini begitu teliti dalam menyajikan tulisannya.

Ada banyak episode menarik lainnya yang terlalu panjang jika dibahas di sini. Setelah mendengar podcast ini, pada beberapa kali kesempatan, saya meluncur ke aplikasi ipusnas untuk mencari buku-buku yang sempat di-mention. Semakin saya mendengar banyak episodenya, semakin saya gelisah karena ternyata masih banyak buku yang belum saya baca. 🙁

Oh ya satu lagi, Leila Chudori sebagai personal juga menarik hati saya. Wawasannya yang luas, mengingat beliau juga seorang jurnalis dan penulis buku, dan keluwesannya memandu acara membuat acara ini tidak kaku. Ah ya hampir lupa, suara beliau pun renyah sekali. Saya sangat merekomendasikan akun podcast ini untuk kalian dengar. Positive vibes-nya terasa sekali.

Okey segitu dulu. Semoga manfaat ya. 🙂

- Article bottom ad -

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here