Persiapan Pernikahan dalam 3 Bulan (Bagian 1)

1
95
- Article top ad -

Berhubung ini bulan Februari, saya mau berbagi cerita persiapan pernikahan kami yang dilakukan selama +/-3 bulan pada 4 tahun yang lalu. Semoga bagi yang sedang mempersiapkan pernikahan, Allah mudahkan prosesnya. Aamiin.

Yang Pertama dan Utama

Sebelum membuat rencana dan eksekusi, yang pertama dan utama adalah minta sama Yang Maha Kuasa, semoga Allah ridhoi dan lancarkan segala urusan. Karena tidak ada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah.

Penetuan Tanggal Menikah

Saya terbiasa memulai rencana dari akhirnya. Penetuan tanggal menikah penting, agar kita bisa bikin timeline lebih rapi. Calon suami (waktu itu) pertama kali berkunjung ke rumah bertemu Ibu (ayah sudah meninggal) pada tanggal 15 November 2015. Hari itu menandai dimulainya hubungan kami sekaligus dimulainnya proses persiapan pernikahan. Sebelum datang ke rumah, saya tanya pada beliau kapan tepatnya kami akan menikah. Pada waktu itu beliau bilang perkiraan Februari 2016. Terdengar agak ragu mengucap bulannya, tapi oke lah. Saya yakini sebagai kemantapan saat itu. Wkwkwkwk. Lalu saya tanya lagi, kapan lamaran. Disebut perkiraan Desember 2015.

Pada dasarnya, saya ga mau bergerak mengurus segala sesuatu sebelum lamaran. Calon suami sering tanya kenapa, yang saya jawab “ya..everything could happen lah”. Tapi kok kayaknya ga bisa diam aja menunggu saat lamaran lalu ‘gong’ siapin nikahan. Jadi lah curi-curi nyiapin nikahan. Setelah sebelumnya menyiapkan hati jika hal-hal yang tidak diinginkan menimpa di kemudian hari. Everything could happen, kan?

Ketersediaan Dana

Langkah pertama cek ketersediaan dana. Liat rekening, ada uang 1.5 juta! Wkwkwkwk. Lalu ingat ada beberapa sumber dana yang bisa digunakan. Dibantu seorang sahabat yang juga akan menikah di bulan yang sama, kami menghitung sumber-sumber uang yang bisa digunakan termasuk piutang (akhirnya ada yang tidak tertagih sampai sekarang, yha..). Terkumpul sejumlah uang di atas kertas (hitung-hitungan) dan memutuskan “bismillah jadi nikah, insya Allah”. Oh iya, sehari-hari saya adalah tulang punggung keluarga, sehingga tidak ada opsi urunan tambahan dana dari orangtua, pun dari pihak calon suami.

Dana ini waktu cairnya beda-beda (ada yang piutang juga kan soalnya~), jadi agak deg-degan juga atur alokasi pemasukan-pengeluarannya.

Konsep Acara

Berangkat dari sejumlah dana yang terhitung, kami sepakat akan menyelenggarakan pernikahan sederhana: akad nikah lalu makan-makan. Yang penting keluarga dan teman kerabat senang gembira. Saat itu tidak terpikir menunda pernikahan dan menabung dulu barang 1 tahun. No! Aku tak mau menunggu terlalu lamaa.. terlalu lamaa.. (lagu siapa?)

Survey (Sebelum Lamaran)

Tempat atau lokasi jadi item pertama yang disurvey karena relatif agak sulit. Lazimnya, di tempat tinggal saya, pernikahan diselenggarakan di tempat tinggal kami dengan menyewa tenda. Tetangga juga saudara akan membantu masak makanan dan menyiapkan hal-hal lainnya. Karena kami sekeluarga hanya bertiga (saya bersama ibu yang sudah sepuh dan seorang adik laki-laki), dirasa terlalu merepotkan jika harus menggelar pernikahan di rumah. Suatu waktu, kami menemukan sebuah Masjid di daerah Kranji. Lokasinya cukup strategis dan tidak jauh dari rumah, sekitar 10 menit perjalanan dengan motor.

Kami sempatkan bertemu dan berbincang dengan pengurus Masjid. Aula serbaguna Masjid terletak di lantai bawah sedangkan Masjid berada di lantai atas. Kapasitas aula serbaguna dapat menampung sekitar 500-700 orang. Tersedia 2 ruangan rias di 2 sudut ruangan. Ada teras di area belakang yang bisa dikasih tenda dan kursi untuk menambah kapasitas tamu undangan yang hadir. Kekurangannya, area parkir tidak terlalu luas tapi bisa disiasati dengan meminjam lahan kosong di belakang Masjid untuk tempat parkir tambahan. Oh iya, nama Masjid ini adalah Masjid Nurani. Overall, Masjidnya oke dan relatif baru (saat itu). Biaya sewa Masjid 5 juta dari jam 7 s.d. jam 10.

Dari pengurus Masjid, kami dapat rekomendasi katering yang merupakan rekanan Masjid. Dilihat sekilas, wah harganya cocok nih. Selanjutnya kami hubungi nomor yang tertera di brosur. Menanyakan hal-hal umum. Harga yang tertera di brosur sudah all in termasuk sanggar, undangan dan suvenir. Menarik! Dengan budget terbatas, prinsip penting yang perlu dipegang adalah lebarkan toleransi dan jangan banyak mau. Wkwkwkwk!

Survey selanjutnya adalah sanggar rekanan katering. Lokasinya berdekatan dengan Masjid, daerah Kranji. Sebelum pilih-pilih baju, terlebih dahulu ditanyakan tanggal berapa akan menikah. Wah..sulit, kami belum tentukan tanggal. Ya kan lamaran juga belom. Saya buka aplikasi tanggalan di handphone, diskusi sebentar dengan suami, tersebut lah 13 Februari 2016. “Ga papa deh, formalitas dulu”. Walhasil, sudah coba sana sini ukuran baju yang paling besar, tidak ada yang cocok, kalau tidak mau dibilang tidak muat. Heu. Masih terbawa kecewa, kami putuskan nanti lagi survey sanggar pengantinnya, setelah lamaran. 

Oke, nanti lanjut lagi ya di bagian 2 😀

Sumber gambar: pixabay

- Article bottom ad -

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here