Jengkel yang Bermalam (Jurnal Hari ke-13)

0
112
Jengkel yang bermalam (Jurnal Hari ke-13)
- Article top ad -

Kemarin saya menulis tentang memendam rasa sebagai catatan atau jurnal terkait komunikasi produktif dengan pasangan. Ternyata permasalahan tidak selesai sampai di situ. Sampai keesokan harinya perasaan yang dipendam tidak kunjung diutarakan. Jengkel yang bermalam berubah menjadi kesal yang bersarang dan meminta korban lainnya. 

Sebelum sampai ke sana, saya ingin menginformasikan bahwa tulisan ini adalah sebagai tugas atas implementasi materi komunikasi produktif kelas Bunda Sayang  Institut Ibu Profesional. Saya dan teman-teman diharuskan membuat catatan atau jurnal sebanyak 15 jurnal dalam 15 hari berturut-turut tentang implementasi materi yang telah diterima. Tentang komunikasi produktif, saya sudah buat ringkasannya di sini jika teman-teman tertarik untuk membaca lebih lanjut. 

Jengkel yang Bermalam

Jengkel yang bermalam menyisakan bad mood saat bangun tidur. Saya kira saya akan mengungkapkan isi hati kepada suami pagi ini. Pagi-pagi betul sudah saya kabarkan pada suami tentang schedule saya pagi hari itu. Harapannya, segala pekerjaan saya selesai sebelum jam 8. Sehingga, suami bisa bekerja di rumah dengan tenang dan saya bisa bermain dengan anak-anak. Lalu kapan saya  akan mengutarakan isi hati? Nanti, jika pekerjaan rumah sudah selesai pada pagi hari. 

Anak-anak sedang bersama Ayahnya ketika saya memasak di dapur. Selagi memasak, saya tengok-tengok tipis ke tempat suami dan anak-anak bermain. Saya lihat suami berjalan ke arah gudang (gudang dan dapur hanya dipisah dinding yang memiliki akses jendela sebagai penghubung kedua ruangan). Di gudang, suami melihat-lihat sebentar lalu berpesan kepada Abang, “Abang, tolong jagain Adek di dalam ya. Ayah mau beresin gudang.” What? Beresin gudang? Kayaknya tadi ga bilang apa-apa deh.

Membereskan gudang ini memang sudah lama direncanakan dan belum terealisasi, setidaknya sebelum pagi itu. Abang Ibrahim menurut Ayahnya untuk menjaga Adek dan sang Ayah benar-benar mengeluarkan barang-barang dari gudang. Tentu saja ini membuat saya semakin kesal. Pertama, karena agenda membereskan gudang tidak ada dalam to do list hari itu. Kedua, ini berarti pekerjaan saya akan bertambah: menyeleksi barang-barang gudang. Lagipula, membereskan gudang membutuhkan waktu yang tidak sebentar sedangkan jadwal work from home suami dimulai +/-1 jam ke depan. Jengkel yang bermalam sudah berubah menjadi kekesalan yang memuncak.

Gudang selesai dibereskan kurang dari 1 jam dan ada tumpukan barang di luar gudang yang harus saya seleksi, akankah dibuang atau dipertahankan dengan dicuci terlebih dahulu. Mengingat pekerjaan yang menumpuk, saya jadi mudah marah-marah kepada anak-anak. Abang yang bawel menjadi pelampiasan amarah saya. Adek yang rewel juga tidak luput dari omelan saya. Keadaan seperti itu berlangsung hingga siang. 

Puncaknya, ketika anak-anak mengantuk tapi tidak mau tidur dan saya begitu pening diselimuti bad mood. Saya hardik Ibrahim yang rewel minta susu.  Ibrahim yang terluka karena dihardik melampiaskannya dengan menutup kepala saya dengan bantal ketika kami bersama-sama berada di kamar. Saya kehilangan tenaga untuk melawan, saya biarkan ia melampiaskan kesal. Dawud yang melihat Abangnya menutup kepala saya sambil memukul, merasa panik. Dia menangis sambil menjerit. Suasana semakin kacau. Kamar menjadi bising. Saya semakin ingin mengeluarkan emosi. Akhirnya saya keluar kamar dan duduk terbengong di balik pintu rumah. 

Perlahan air mata menetes, Ibrahim yang melihatnya merasa bersalah. Ia meminta maaf sembari menangis. Jelas ini bukan salah Ibrahim. Saya yang bersalah tidak menuntaskan permasalahan dengan suami. Oh ya, bagaimana respon suami atas kejadian tersebut? Dia baik-baik saja. Dia mengira anak-anak rewel dan membuat saya kesal, seperti biasanya. Dia tidak tahu saya butuh dipeluk (yakali dia bisa baca pikiran gue). Setelah saya menenangkan diri, saya maafkan Ibrahim. Saya bilang padanya, bahwa saya sedang lelah sekali. Saya juga meminta maaf atas hardikan yang saya tujukan padanya. 

Akhirnya saya ungkapkan perasaan melalui tulisan pada blog. Suami membaca dan memahami kondisi dalam dua hari belakangan. Keadaan kembali normal setelah saya membelikan gorengan kesukaan suami. 

Poin Komunikasi Produktif.

Dari sekelumit kejadian di atas, saya benar-benar tidak ingin berada dalam kondisi seperti itu lagi. Dengan mencatat apa-apa saja yang perlu diperhatikan, saya harap dapat menjadi pengingat saya kedepannya dalam menentukan strategi komunikasi dengan pasangan: 

  1. Turunkan ego, katakan yang dipendam. Jangan lagi ada jengkel yang bermalam. Husnudzon bahwa suami dapat menerima keluhan saya, dengan catatan diksi dan gesture yang dipakai tidak dalam bentuk menghakimi pasangan.
  2. Jika berbicara langsung tidak memungkinkan, tuliskan. Biarkan suami tahu apa yang dirasakan istri. Memang tidak selamanya bicara langsung dapat menyelesaikan masalah, terlebih untuk saya yang agak sulit meredam emosi.
  3. Kenali emosi, jangan tularkan emosi negatif pada pihak yang tidak berhubungan dengan sebab emosi negatif. Dalam hal ini, anak-anak hanya korban salah tembak emosi negatif saya. Kesalnya dengan suami, marahnya ke anak-anak. Sebelum marah, ingat-ingat luka yang akan membekas di hati anak karena amarah yang salah sasaran. 

Bintang Penghargaan.

Lagi-lagi saya harus memberi nilai 2 bintang dari 5 bintang. Sudah hari kedua memendam emosi, alih-alih diungkapkan, saya malahan marah-marah ke anak-anak. Semoga tulisan ini menjadi pengingat pribadi tentang pentingnya mengungkapkan perasaan dan mengelola emosi. 

Semoga kejadian ini bermanfaat bagi yang membaca. Jika ada tanggapan, boleh disampaikan pada kolom komentar ya. Terima kasih. 

Tabik!

Bekasi, 15. September 2020

- Article bottom ad -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here