Menata Hati Menjadi Penulis: Sebuah Ringkasan

0
169
- Article top ad -

Assalamu’alaikum Bunda! Hari ini saya berkesempatan mengikuti kelas materi di Komunitas ODOP. Materi hari ini menarik, temanya tentang Menata Hati untuk Berkarir Menjadi Penulis yang dibawakan oleh kak Ahmad Solahuddin. Pertama kali saya baca judulnya, saya berpikir, kenapa mesti menata hati untuk menjadi penulis? Pentingnya apa? Ternyata materi yang keliatan retjeh sungguh dekat dengan saya, bisa jadi malah yang sangat saya butuhkan untuk saat ini.

Untuk Apa Menulis?

Materi ini berisi tentang asupan motivasi kepada penulis pemula dengan berbagai permasalahannya. Dibuka dengan latar belakang menulis: kenapa kamu menulis? Sampai saat ini, pertanyaan ini masih sering mampir di kepala saya. Ketika saya bolak-balik ragu mau nulis tentang suatu hal. Ketika jenuh menerjang. Ketika merasa bersalah ketiduran dan tidak bisa nulis.

Untuk apa sih saya nulis? Pertanyaan itu sebenarnya sudah ada jawabannya, cuma seringnya butuh kembali diingatkan agar tetap termotivasi. Agar tetap on the right track. Tapi, kadang juga suka dibuat ragu sama pikiran sendiri: yakin ‘itu’ alasannya nulis? Sungguh isi kepala yang membingungkan :))

Kendati kamu berpikir tapi tidak menulis, maka kamu tidak benar-benar ada. Karena orang tidak bisa membaca pikiranmu hingga kamu menuangkannya dalam tulisan.

Ahmad Solahuddin

Ragam Kendala Penulis Pemula

Kak Didin (panggilan dari Ahmad Solahuddin) menjabarkan beberapa kendala yang biasanya dihadapi oleh penulis pemula.

Belum Mencintai Menulis

Duh, ini menohok banget sih. Saya kira saya sangat suka menulis, mencintai menulis. Ikut kulwhap, webinar, dan segala macam yang terkait menulis. Tapi lalu tidak menulis kecuali setelah ‘dipaksa’ ODOP untuk menulis setiap hari. Karena sering menulis, saya jadi tau, menulis itu tidak melulu tentang seberapa bagus tulisan saya. Seberapa manfaat tulisan saya dibaca orang. Cukup menulis saja terus. Yang belum pas diperbaiki sambil jalan.

Banyak orang hanya mencari motivasi menulis, tanpa berhasil menjadi penulis. Solusinya, cintailah menulis hingga ia menjadi bagian dari hidupmu!

Ahmad Solahuddin

Epic ya kata-katanya kak Didin? Bisa jadi selama ini saya belum menjadikan menulis jadi bagian hidup. Mari kita lihat lagi sebulan ke depan. Mohon doanya semoga saya semangat selalu.

Belum Tahu Genre yang Sesuai Jati Diri

Jika membaca sub judul di atas, akan timbul pertanyaan: bagaimana cara tahu genre yang sesuai dengan jati diri kita? Jawaban dari Kak Didin sederhana: tekunlah menulis. Seiring berjalannya waktu, menurut Kak Didin, nanti kita akan mengetahui genre tulisan bagaimana yang sesuai dengan jati diri kita. Bagi yang senang ngebanyol, tidak perlu memaksakan menulis bagus dengan bahasa yang serius. Jadilah diri sendiri. Karena dengan memaksakan diri menjadi orang lain akan cukup melelahkan lalu membuat semangat kita turun.

Jadilah apa adanya dan seada-adanya dalam tulisan. Dengan begitu, menulis akan menjadi bagian dari dirimu.

Ahmad Solahuddin

Kurang Membangun Komunitas

Ini pentingnya berkelompok dengan orang-orang yang memiliki kesukaan yang sama: saling memotivasi dan memperbaiki. Sejak tahu saya suka menulis, saya selalu mencari komunitas. Fungsinya agar saya bisa menengok bagaimana teman-teman saya keterampilan menulisnya meningkat lalu saya tiru. Saling menyemangati di kala jenuh. Memberi saran dan kritik tulisan yang rampung dibuat.

Untuk penulis pemula disarankan untuk berada dalam suatu komunitas.

Untuk pemula, ‘saran’ dan ‘pengalaman’ jauh lebih berharga daripada ‘uang’.

ahmad Solahuddin

Tidak Mempelajari Pasar

Belajar pasar yang ada bukan hanya ketika kita mau launch sebuah buku aja loh. Ini tentang bagaimana tren tulisan saat ini yang banyak digemari pembaca. Tentunya penulis ingin sekali tulisannya dibaca orang kan? Maka pelajarilah arus pembaca saat ini.

Insecure Ditolak Editor

Bukankah sebagai pemula, kemungkinan besar tulisan kita ditolak oleh editor? Lalu khawatir tentang apa? Kirim saja ke editor sembari siapkan hati yang luas untuk terus belajar.

Duile kayaknya bicara mudah banget ya. Padahal saya tahu ini ga mudah, kan saya berada pada posisi tersebut. Jadi ya..ayoklah kita coba dulu ya, Bund!

Jadi gimana Bund? Sudah semangat lagi untuk melanjutkan menulis? Semoga tulisa ini bermanfaat ya Bund 🙂

- Article bottom ad -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here