Bijak Antibiotik

0
63
- Article top ad -

Tempo hari saya sempat menulis tentang keputusan saya tidak tebus puyer dan antibiotik yang dokter resepkan untuk Dawud. Jelasnya bisa lihat di sini.

Hari-hari setelahnya, Dawud belum kunjung sembuh. Demam masih turun naik dengan posisi tertinggi di 38.9° C. Batuk masih berat, dahak masih ada dan sepertinya semakin banyak, suara Dawud hampir hilang karena tertutup dahak, pilek masih meler, semakin jarang menyusu,  Dawud terlihat lemas dan rajin tidur. Saya patah hati 🙁

Sampai pada hari kamis, pagi hingga siang rewel (sebelumnya tidak rewel walaupun demam), lalu saya gendong dan tertidur. Tidur Dawud menjadi panjang durasinya, tidur siang bisa 3 jam (biasanya setengah jam atau sejam). Bangun tidur demam tinggi. Karena sudah 7×24 jam deman turun naik bahkan setelah ke dokter, akhirnya saya putuskan kembali ke dokter sore itu.

Masuk ruangan praktek, dokter pandang-pandangi anak saya yang diletakkan di atas tempat tidur. Awalnya, Dawud diduga sesak napas karena dada terlihat terangkat tinggi saat bernapas. Setelah saya katakan bahwa Dawud tidak sulit tidur, kembali dipandang-pandangi Dawud diiringi beberapa pertanyaan pada saya.

“Kemarin dikasih obat apa aja, Bu?”. Saya jawab semua obat yang diresepkan dokter sebelumnya. 

“Sudah dikasih antibiotik ya padahal”, eh? Hm..perlu dijelaskan. 

“Sebenarnya saya ga tebus antibiotik dan puyernya, dok”. Saya menduga kuat akan diomelin dokter. Oh iya, dokter ini terkenal tegas cenderung galak pada orangtua pasien ‘tertentu’. 

“Kenapa ibu ga tebus?”, Saya deg degan. Saya ingat pesan seorang teman: dia suka ngomel sama orangtua pasien yang sotoy. Alamak! 

“Karena saya lihat ada semacam spanduk imbauan di dinding dekat farmasi”, saya berikan fotonya kepada dokter. 

“Kalau menurut saya ya bu, pemberian antibiotik itu perlu pada kasus-kasus tertentu”, intonasi suara menurun. Saya lega. 

“Di luar negeri memang ga ada sakit flu dikasih antibiotik, karena di sana bersih. Lha kita? Ini yang paling penting dikasih antibiotik Bu anaknya. Saya resepin ya bu antibiotiknya”, penjelasan berlanjut dengan info resep obat dan ketentuan meminumnya.  Ada 4 jenis obat yang diresepkan oleh dokter: antibiotik, 2 jenis puyer dan obat pengencer dahak. Kali ini kesemuanya ditebus 😀

Esokannya, atas izin Allah, Dawud sudah tidak demam. Beberapa hari kemudian pileknya sembuh. Baru-baru ini batuk serta dahaknya sudah menghilang. Tulisan ini sekaligus penebus kekeliruan saya yang miskin ilmu dalam mengambil keputusan. Semoga kita dapat bijak dalam memutuskan sesuatu 🙂

Sumber gambar: Pixabay

- Article bottom ad -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here