Urut Haji Naim khusus Perempuan

2
198
- Article top ad -

Sudah sekitar dua bulan pergelangan kaki saya terasa ngilu. Mungkin pernah terkilir tapi saya juga lupa bagaimana dan kapannya. Awalnya saya abaikan, tapi lama-kelamaan cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Pernah suatu hari kami memanggil tukang urut ke rumah, tapi hasilnya tidak terlalu signifikan. Hingga tiba pada hari di mana saya harus vaksin covid-19 dosis kedua, suami menawarkan saya untuk urut kaki terlebih dulu ke Haji Naim sebelum vaksin. Khawatir sakit semakin menjadi.

Sebenarnya saya agak ragu untuk urut karena dua alasan: saya akan lebih lama meninggalkan anak-anak di rumah dan saya agak segan sebetulnya jika harus diurut oleh laki-laki. Beberapa tahun sebelumnya, saya pernah juga urut tangan yang terkilir ke Haji Naim dan diurut oleh laki-laki. Tapi dengan mempertimbangkan banyak hal: okelah, coba diurut ke Haji Naim. Bismillah!

Lokasi Haji Naim Urut Patah Tulang

Lokasi Haji Naim dan tempat yang akan saya kunjungi untuk vaksin masih berada pada satu wilayah yang sama, di Jakarta Selatan. Dari Bekasi, perjalanan pada pagi hari (Sabtu) saat diberlakukannya PPKM level 4 memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit. Di sini ya lokasi persisnya.

Hj Julaeha Melayani Urut untuk Perempuan

Sesampainya di sana, saya lihat antrian pasien haji Naim sudah banyak.

Haji Naim
Antrian Pasien Urut Haji Naim

Sebelum memarkir kendaraan, saya dan suami melihat ada antrian di beberapa rumah di samping tempat Haji Naim. Kepada petugas parkir, suami bertanya apakah tempat tersebut juga bagian dari Haji Naim. Dari petugas parkir kami tahu bahwasannya Haji Naim memiliki ‘cabang’ untuk perempuan yang ingin diurut oleh perempuan juga. Wah ini dia tempat urut patah tulang khusus perempuan!

Saya memilih satu di antara 3 rumah yang melayani urut khusus perempuan, rumah milik Hj Julaeha.

Haji Naim
Rumah Urut Tulang Hj Julaeha

Selain rumah Ibu Hj Julaeha, saya lihat ada 2 rumah di kanan dan kiri rumah Hj Julaeha yang juga membuka praktik urut untuk perempuan.

Haji Naim
Rumah Ibu Ella H Naim

Jadwal Praktik Urut

Saya tiba di rumah tersebut dan diberi nomor antrian 53, padahal saat itu belum zuhur. Ternyata Hj Julaeha sudah mulai praktik sejak pukul 7 pagi hari. Buat kamu-kamu yang berencana ke Haji Naim atau Hj Julaeha, coba cek jadwal praktiknya dulu ya!

Haji Naim
Jadwal Praktik Haji Naim (atau Haji Nain?)
Haji Naim
Jadwal Praktik Hj Julaeha

Proses Urut Kaki oleh Hj Julaeha

Praktik urut dilakukan di dalam rumah dengan pintu tertutup. Jadi, cukup aman bagi pasien perempuan yang harus membuka sebagian auratnya saat diurut.

Setelah menunggu beberapa waktu di teras rumah, kami yang mengantri dipanggil untuk masuk ke dalam rumah bersamaan dengan keluarnya pasien yang sudah ditangani dari dalam rumah. Sekitar 5 nomor antrian masuk seluruhnya ke dalam rumah. Setelah di dalam rumah pun kami masih tetap mengantri karena Hj Julaeha menangani seorang diri mengurut pasien dan hanya dibantu oleh seorang asisten untuk mengordinir antrian dan hal-hal teknis lainnya selain urut.

Hj Julaeha adalah salah satu cucu dari Haji Naim dari anak Haji Naim bernama Hj Aisyah. Sembari mengurut, Hj Julaeha bercerita dan berinteraksi dengan kami layaknya ibu-ibu pada umumnya. Karena saat itu saya mengantri sembari membaca buku, saya tidak mendengarkan sepenuhnya cerita Hj Julaeha. Namun, saya bisa melihat Hj Julaeha sebagai sosok yang ceria dan mudah bergaul.

Jika kamu datang pada masa pandemi, saat menunggu giliran urut di dalam rumah, kamu bisa menyiasati dengan memilih duduk berjarak dengan pasien lain yang juga sedang menunggu antrian. Mengingat ruangan yang tidak begitu luas dan dalam kondisi tertutup.

Tiba giliran saya untuk diurut. Saya memberitahukan keluhan saya yang nyeri di pergelangan kaki dan telapak kaki kanan. Saat diurut, saya tanyakan apa kira-kira yang terjadi pada telapak kaki kanan saya. Hj Julaeha mengatakan tumit saya bergeser. Sembari mengurut, ia bertanya apa saya membawa perban elastis karena perawatan kaki saya tampaknya harus dilanjutkan dengan membalut tumit.

Saat itu saya minim persiapan dan tidak membawa perban elastis. Asisten Hj Julaeha menawarkan saya untuk membeli perban elastis yang dibandrol dengan harga 90 ribu (panjang +/-2.4 meter). Saya memutuskan membeli perban dari asisten Hj Julaeha agar lebih praktis dan tidak harus pergi ke apotek.

Untuk kamu yang berencana urut dan dirasa perlu perban untuk perawatan setelahnya, saya sarankan untuk membawa perban elastis sendiri.

Setelah kira-kira 10 menit mengurut, Hj Julaeha mengakhiri proses urut dengan membalut telapak kaki saya dengan kapas yang sudah dibasahi cairan (diduga putih telur), kain kasa putih, dan perban elastis.

Haji Naim
Balutan Perban Telapak Kaki oleh Hj Julaeha

Ia berpesan agar balutan perban tidak boleh dibuka dan tidak boleh basah. Saya juga diminta untuk menghindari makanan-makanan tertentu selama masa pengobatan (diberikan selembar kertas berisi daftar makanan pantangan). Saya diminta datang kembali sekitar 4 hari setelahnya.

Kedatangan Kedua

Pada hari yang sudah ditentukan, saya datang kembali. Kali ini saya datang lebih awal: sekitar pukul 7 pagi saya sudah tiba. Saya dapat urutan nomor 5. Beberapa menit lewat dari jam 7, Hj Julaeha memulai pelayanan urut hari itu. Kali ini saya mengantri tidak sembari membaca buku. Saya memutuskan menikmati momen bercengkrama dengan Hj Julaeha dan pasien lainnya.

Tiba giliran saya, Hj Julaeha membuka perban sembari mengomentari perban saya yang basah. Memang susah betul menjaga perban yang terbalut di telapak kaki agar tidak basah, apalagi agar tidak kotor. Berbeda dari urut kali pertama yang terasa sangat sakit, urut kali ini tidak terlalu sakit. Saya melihat ini sebagai progres yang baik. Saya merasa akan sembuh seketika 😅

Setelah proses urut sekitar 15 menit, Hj Julaeha kembali membalut kaki saya dengan kapas yang sudah dibaluri cairan dan kain kasa putih. Kali ini tidak dibalut dengan perban elastis. “Cuci dulu perbannya”, begitu jawabnya saat saya tanya apa perlu dibalut pakai perban elastis juga.

Selesai urut, saya membayar jasa Hj Julaeha yang diberikan langsung kepada Hj Julaeha. Besaran jasa tidak dipatok alias seikhlasnya.

Keluar dari ruangan, saya merasa kaki saya jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali datang. Dari yang sebelumnya berjalan seperti orang pincang, setelah kedatangan kedua tumit kanan sudah mulai enak diajak melangkah, walaupun masih ada setruman ngilu sedikit.

Hari itu menjadi kedatangan terakhir saya hingga hari ini. Saat ini, kondisi kaki saya jauh lebih baik dibandingkan dengan kondisi kedatangan terakhir. Proses jalan sudah lancar seperti sediakala, walaupun masih terasa ngilu jika berdiri agak lama dan berjalan cepat dalam jangka waktu lama (beli sayur ke komplek sebelah jalan kaki, misalnya). Sepertinya saya harus bersabar sedikit lagi hingga kaki benar-benar sembuh.

Mohon doa teman-teman semua untuk kesembuhan saya. Terima kasih!

- Article bottom ad -

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here