Buku Hibah dari Proses Declutter Teman

3
110
- Article top ad -

Hari ini saya gembira sekali Bund, tebak kenapa? Ya sudah tergambar di judul ya. Betul, saya dapat buku hibah dari proses declutter teman. Membingungkan ga? Jadi, teman saya ini sedang mengurangi koleksi buku (declutter). Saya juga terhitung baru kenal sama beliau ini. Kami tergabung dalam sebuah grup whatsapp yang tujuan grupnya adalah untuk menemukan orang yang akan ‘membuang’ barang dengan orang yang membutuhkan barang tersebut. Sehingga, tujuan dari grup ini adalah untuk mengurangi sampah beredar di masyarakat. Karena, bisa jadi yang tidak kita butuhkan adalah yang diperlukan oleh orang lain. Sungguh mulia sekali kan.

117 Buku Menanti Dihibahkan

Saya sebenarnya tidak terlalu aktif di grup tersebut karena memang sedang tidak dalam proses decluttering, jadi di grup saya sebatas silent reader, bahkan notifikasi grup seringnya baru dibuka beberapa hari kemudian.

Tapi hari itu berbeda. Menuju magrib, saya iseng buka grup yang sudah ada notifikasinya, tidak banyak, sekitar 10 chat. Termyata ada kiriman gambar koleksi buku yang tidak sedikit jumlahnya. Mata yang tadinya udah mulai ngantuk mendadak tegar.

Saya lihat satu-satu buku yang ada di foto dan ada salah satu buku yang sudah beberapa pekan saya incar di ipusnas tapi selalu berakhir dengan mengantri. Buku tersebut adalah Ayah karya Andrea Hirata.

Tidak tunggu lama, buru-buru saya chat si pemilik buku, memastikan bahwa buku tersebut masih available. Dan ya, buku tersebut belum ada yang mengincar! Alhamdulillah.

Berhasil take satu buku, saya lihat lagi koleksi buku lainnya. Total ada 13 foto koleksi buku yang masing-masing foto memuat 9 buku. Artinya, ada 117 buku yang akan dihibahkan, waw! Buku-bunya juga relatif bagus-bagus.

Setelah Ayahnya Andrea Hirata, pilihan kedua saya jatuh pada Filosofi Kopi karya Dee atau Dewi Lestari. Saya ingat, saya punya Madre dan Rectoverso (keduanya ada di rumah Ibu), tapi saya tidak ingat sudah membaca Filosofi Kopi. Mumpung available, saya pesan juga buku tersebut.

Pencarian masih dilanjutkan. Dalam 117 koleksi buku tersebut saya lihat ada buku berjudul Pengen Jadi Baik 2. Saya follow akun instagram Om Squ tapi belum pernah sekalipun baca buku beliau. Saya penasaran juga tentang isi bukunya. Yang pasti sih saya bakalan suka sama gambar-gambar komiknya. Jadi, Pengen Jadi Baik 2 menjadi buku ke-3 yang saya pilih.

Apakah sudah selesai? Belum sodara-sodara. Sata kira ini perlu satu lagi untuk menggenapkan (3 buku termasuk angka ganjil kan?). Bolak-balik lihat buku, saya penasaran juga sama bukunya Harper Lee: Go Set A Watchman. Saya ingat-ingat, kayaknya saya jarang baca novel terjemahan, jadi bolehlah dicoba. Semoga tidak mengecewakan.

Apakah sudah selesai? Yap, saya pilih 4 buku itu aja. Saya kira terlalu banyak juga tidak bagus untuk ketenangan pikiran saya: dikejar-kejar tumpukan buku yang minta dibaca.

Tapiiiii, ternyata kejadian tidak sampai di situ. Ketika saya ambil buku langsung ke pemberinya (dengan berbagai pertimbangan, saya memilih mengambil langsung ke rumah beliau), buku-buku yang saya pilih ternyata belum dikisahkan dengan buku-buku lainnya. Sehingga, ada proses memilih buku-buku tersebut dari tumpukan buku yang ada.

Ketika proses memilih itu lah, saya melihat satu cover buku yang tidak asing. Saya menggemari tulisan-tulisan beliau. Ada 2 buku beliau yang sudah saya miliki, tapi buku yang saya lihat secara tidak sengaja itu belum punya. Seingat saya, buku itu tidak ada dalam gambar yang dikirimkan di grup.

Tidak ingin kehilangan momen, saya beranikan bertanya: Mba, buku Mohammad Fauzil Adhim yang itu sudah ada yang punya belum?

Mba-nya tampak kebingungan kenapa buku tersebut ada di dalam tumpukan buku. Tapi, tidak lama kemudian buku tersebut berpindah tangan: Ga papa mba ini diambil aja. Alhamdulillah. Girang bener saya, Bund.

Semoga buku-buku tersebut juga gembira ya saya miliki. Doakan ya Bund, semoga selesai terbaca semua buku-buku tersebut.

- Article bottom ad -

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here